Kasihan Hanung, Kasihan HIJAB

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca. Apakah mereka mensupport hijab atau sebaliknya? Atau kalau saya bertanya lebih ekstrim lagi, mereka berdua cinta Islam atau sebaliknya.

Saya merasa pantas bertanya demikian, karena beberapa film Hanung memang bernada minor terhadap Islam, apakah itu Perempuan Berkalung Sorban atau “?”. Kali ini satire dan sikap tendensius pada Islam oleh Hanung ditumpahkan lewat film Hijab.

Mungkin Hanung dan Zaskia bisa mengatakan kalau mereka tidak bermaksud demikian. But, action speaks louder than thousand words. Jujur saya belum melihat filmnya. Saya hanya baca sinopsis, komentar sejumlah orang dan nonton trailernya. Buat saya itu sudah cukup.

Lihat saja di trailernya ada pertanyaan; “Kenapa sih kalian berhijab?” seorang dari 4 tokoh utama di situ spontan menjawab, “Gue pake hijab karena kejebak!”

Jleb! Apa maksudnya?

Kelihatan Hanung seperti mengungkapan ketidaksukaannya pada sejumlah ajaran Islam. Seperti ada phobia Hanung terhadap ajaran Islam yang diungkap dalam film ini. Pertama, soal kewajiban berhijab. Dalam pikiran Hanung, berhijab tidak pantas atas paksaan orang lain, tapi harus karena kesadaran. Gugatan ini disodorkan Hanung lewat profil tiga perempuan berhijab yang melakukannya karena terpaksa. Buat Hanung berhijab atau tidak itu pilihan, bukan kewajiban. Bila ingin berhijab pakailah secara sadar dan ikhlas, jangan karena terpaksa.

Banyak muslim yang berpikiran seperti Hanung, bahwa Islam itu harus dikerjakan atas kesadaran dan bukan karena keterpaksaan. Ini separuhnya benar, separuhnya ngawur. Ikhlas memang jadi salah satu syarat amal diterima oleh Allah, dan itu amat baik. Tapi itu bukan satu-satunya. Karena Allah tidak akan pernah menerima alasan muslim yang tidak shalat, tidak berpuasa Ramadlan, tidak berhijab dengan alasan ‘yang penting ikhlas’. Ini seperti logika anak-anak alay; daripada shalat tidak ikhlas, lebih baik tidak shalat tapi ikhlas. Daripada tidak berzina karena terpaksa, lebih baik berzina tapi sukarela.

Ini logika absurd. Kacau. Karena bagi siapa saja yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat adalah harus terikat, taat pada perintah dan larangan Allah SWT. Melalaikan hal itu — meski dengan ikhlas – hanya adalah pelanggaran atas hukum syara dan berdosa. Jadi jangan gugat siapa-siapa bila kelak Allah dengan ‘ikhlas’ mengazab mereka di neraka Saqar:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,”(QS. Al-Mudatstsir [74]: 42-43).

Bukan hanya Islam yang ‘memaksa’ umatnya untuk taat pada aturan syariat. Semua hukum di dunia juga begitu. Bila mau fair, cobalah Hanung gugat juga kewajiban bayar pajak, kewajiban memakai KUHP di pengadilan, orang tua yang melarang anak gadisnya berjilbab, institusi yang melarang pegawai perempuan berhijab – seperti kepolisian,dan sekolah-sekolah yang melarang siswi-siswinya berhijab. Banyak muslimah yang menangis karena ingin berhijab tapi diancam keadaan. Mereka tidak ikhlas ‘telanjang’. Kenapa ini tidak dibela Hanung?

20140420_153530_mahasiswa-dukung-polwan-berjilbab

Ajaran Islam kedua yang ditertawakan dan digugat Hanung dalam film itu adalah kewajiban istri taat pada suami. Hal ini nampak jelas lewat tokoh Arab (diperankan oleh Mike Lucock) yang digambarkan sebagai muslim ‘ortodoks’ yang memaksa istrinya untuk berhijab. Tokoh ini mahir mengutip ayat al-Quran dan pendapat-pendapat ulama tentang kedudukan perempuan yang harus tunduk pada suami.

Bahkan secara sarkastis Hanung lecehkan peran istri dan ibu menurut Islam lewat dialog “perempuan itu harusnya di dapur, ngurus anak dan melayani suami.” Dan masih banyak lagi adegan-adegan macam itu. Astaghfirullah! Perintah dan pujian Allah serta Rasulullah kepada kaum wanita agar menjadi istri dan ibu, menurut Hanung adalah kolot, ortodoks dan menyiksa kaum wanita.

Cobalah Hanung bersikap fair; hitung berapa banyak ilmuwan, pemimpin dunia, ulama, tokoh sukses yang dicetak lewat tangan dingin seorang ibu rumah tangga. Tapi itu buat Hanung itu hanya jadi bahan olok-olok lewat film Hijab.

Selain itu, seorang suami, memang berkewajiban mendidik istri-istri mereka agar taat pada Allah. Itulah konsep suami-istri dalam Islam. Termasuk mewajibkan istrinya untuk berhijab. Suami yang membiarkan istrinya ‘telanjang’ keluar rumah, bergaul bebas, adalah suami dayus yang haram mencium wanginya surga.

Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari rasulullah saw berkata : “Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaiatu si dayus, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang kecanduan arak.” Lalu sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah paham arti orang yang kecanduan arak, tetapi apakah itu dayus?” Berkata nabi, “Yaitu orang yang tidak memperdulikan siapa saja yang masuk bertemu dengan ahlinya (isteri dan anak-anaknya) –  (Riwayat ath-Thabrani ; Majma az-Zawaid, 4/327 dan rawinya adalah tsiiqat).

Imam az-Zahabi menjelaskan bahwa yang dimaksud lelaki dayuts ialah lelaki yang mengetahui istrinya berbuat keji tapi mengabaikannya karena perasaan cinta pada istrinya, maka lelaki itu tidak memiliki kecemburuan (yang diperintahkan Islam) (Al-Kabair, 1/62 ).

Dalam Islam suami memang ditetapkan sebagai pemimpin, tapi pantang otoriter. Kepemimpinannya adalah ri’ayah, mengayomi keluarganya. Dan status istri bukanlah anak buah atau prajurit. karena hubungan suami-istri dalam Islam adalah hubungan persahabatan. Penggambaran tokoh suami-istri dalam film itu sudah mendangkalkan pemahaman penonton tentang indahnya syariat Islam dalam rumah tangga.

violence

Nampaknya Hanung begitu bernafsu menjejalkan pemikiran liberalisme ke dalam film-filmnya, termasuk dalam film Hijab. Dalam rumah tangga liberal, jangankan memerintahkan berhijab, suami juga harus rela melihat istrinya cium pipi dengan lelaki mana saja, atau ingin berfoto seksi atau malah main film porno sekalipun. Tapi kita bertanya; apakah waras seorang suami membiarkan istrinya berfoto bugil asal dilakukan dengan ikhlas?

Memang kita akui, sekarang ini banyak muslimah berhijab yang belum sepenuhnya paham tentang aturan pergaulan. Berkerudung tapi berpakaian ketat. Berhijab tapi juga tabarruj. Berhijab tapi tidak membatasi pergaulan dengan lawan jenis, termasuk berpacaran, nonton konser musik, dll.

Bila maksud Hanung ingin menyadarkan mereka, maka ini cara yang keliru. Harusnya Hanung dan Zascia membuat film yang mengedukasi mereka agar sadar dan mau belajar menjadi muslimah yang kaffah. Bukan malah membuat film yang mengolok-olok ajaran Islam.

Soal istri yang tidak wajib bekerja, karena memang Islam mewajibkan suami mereka untuk memenuhi nafkah anak dan istri secara ma’ruf. Itu pun bukan berarti haram bagi istri untuk punya penghasilan sendiri. Bila maksud Hanung adalah menjelaskan hal itu, maka bukan dengan memvisualkan hal itu secara sarkastis dan mengandung pelecehan terhadap hak dan kewajiban suami menurut Islam.

Kenapa juga Hanung tidak membuat film yang menggambarkan pengorbanan dan kerja keras suami menafkahi anak dan istrinya? Bukankah itu lebih menyentuh, mencerdaskan dan menggugah?

Atau lebih terpuji bila Hanung membuat film yang menggambarkan perempuan pekerja itu nyatanya mengalami eksploitasi tenaga dan mental dalam industri ala kapitalisme. Itulah realita yang harusnya dipotret oleh Hanung.

Picture1

Maka kasihan Hanung. Sutradara yang menurut saya cerdas dan berkelas tapi malah senang membuat film-film yang mengolok-olok agamanya sendiri. Sayang kalau enerji, biaya dan kecerdasan Hanung justru dipakai untuk film beginian.

Lebih baik Hanung membuat karya yang menggugat liberalisme yang sudah merusak banyak rumah tangga muslim, merusak banyak muslimah, dan akidah umat.

Kasihan Hanung, karena di saat ia mengolok-olok ajaran Islam, justru di Barat banyak cendekiawan yang memuji dan berlomba-lomba masuk Islam. Di antaranya karena Islam memuliakan perempuan, seperti pernyataan George Bernard Shaw, seorang cendekiawan Katolik asal Irlandia yang memuji Islam karena memuliakan perempuan:

“Saya telah mempelajari dia (Muhammad saw)… Ajaran-ajaran Muhammad telah memuliakan kedudukan wanita. Muhammad tak membiarkan anak-anak perempuan mati kedinginan dan kelaparan. Di samping ia menganjurkan pengikutnya untuk berbuat baik kepada hewan…”(The Genuine Islam, Vol. 1, No. 8, 1936 karya Sir George Bernard Shaw)

 

Tulisan Asli :http://www.iwanjanuar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s