Yang Tak Terbeli dan yang Terlupakan

Things you can’t buy in stories: Friends, love, dreams, a wish come true, happiness and time. Saya tidak tahu pasti siapa penulis quote tersebut. Pagi ini saya mendapatinya dari display picture (DP) seorang sahabat di blackberry messanger. Diam-diam saya membenarkan kalimat tersebut meski saya sedang diam-diaman dengan pemasang DP tersebut.

Enam kata ‘can’t buy’ tersebut tertulis dalam sebuah gelas-gelas dengan ukuran yang berbeda. Ukuran yang paling besar adalah “Love” dan terkecil adalah “time”. Namun saya tidak meletakkan keduanya dalam catatan pagi ini. Tanpa mendiskreditkan yang lain, sengaja saya meletakkan kata ‘friends’ di urutan pertama. Sesuatu yang telah menghilang belakangan ini, lebih lagi ketika menjelang pemilihan presiden dan usai pemilihan presiden.

Berapa teman-teman dekat kita makin jauh ketika kita saling silang sengkarut dan debat kusir tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden yang tidak setali tiga uang?

Berapa jumlah teman maya yang kita unfriend hanya karena sudah beda arah?

Sekalipun dalam satu lingkaran pengajian pekanan, ada juga yang terjadi friksi hanya karena dinilai sudah beda pandangan dalam memilih presiden.

Saya tak akan berpanjang lebar kali tinggi dibagi dua berbicara tentang masalah pilihan presiden. Mari kembali berbicara tentang persahabatan, kita lebih intim dengan kata ‘ukhuwah’. Kata yang begitu indah. Seberapa erat kau mendekap sebuah ukhuwah?

Suatu kali seorang kawan pernah bercerita tentang temannya dalam halaqah (sebut saja namanya Hasan). Hasan ini sudah mempunyai tiga anak dan satu istri. Mereka hidup dalam keadaan sangat sederhana—sulit untuk mengatakan hidup dalam keprihatinan. Hasan hanya kerja serabutan, kadang ada yang bisa dikerjakan kadang nggak ada yang bisa dikerjakan. Di antara kawan-kawan sehalaqahnya hanya dia yang paling miskin. Sementara kawan-kawan lainnya kebanyakan bermobil, dia hanya mampu berkendaraan umum dan banyak jalan kaki ketika berangkat di liqoan. Kelebihannya dia adalah peserta liqo yang paling rajin dibandingkan dengan yang lain.

Dalam 2 atau 3 kali pertemuan, Hasan tidak menampakkan batang hidung dan helai-helai jenggotnya. Kawan-kawannya penasaran mengapa ‘Si Rajin’ ini tiba-tiba menjadi ‘Si Tidak Rajin’? Mereka pun mencari tahu dengan mendatangi rumahnya. Ternyata rumahnya sangat sederhana sekali. Saking sederhananya membuat tamu tidak capek. Mau keluar dekat, mau ke kamar mandi dekat, ke dapur juga dekat.

Hasan tak banyak cerita mengapa dia tak bisa hadir dalam beberapa pertemuan halaqah pekanan. Kawan-kawannya hanya menyampaikan bahwa aka nada rihlah keluarga. Hasan sudah tahu tentang itu karena pernah menjadi wacana sebelumnya. Bingung juga pusing. Dua kata itu berputar keliling di pikiran Hasan. Rihlah kali ini pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kalau rihlah dia sendiri sih tak mengapa, dia mungkin masih mampu dan mengupayakan. Tapi ini bareng keluarga, istri dan anak-anaknya, praktis biaya yang dikeluarkan sangat banyak.

H-7 pelaksanaan rihlah keluarga, Hasan pun dihubungi temannya yang kebetulan ketua pelaksana.

“Antum jadi ikut kan?”

Hasan tak langsung menjawab.  Diam sejenak.

“Ana berkenan untuk ikut, tapi…” kata Hasan di ujung ponsel butut yang merknya sudah tenggelam di pasaran.

“Ikut saja, Akhi. Permasalahan biaya tidak usah dipusingkan.” Kata sang kawan yang selanjutnya mengatakan bahwa biaya sudah ditanggung teman-teman, mereka patungan untuk itu.

Hasan senang mendengar itu. Akhirnya ia bisa ikut rihlah bersama teman-teman halaqah, juga bisa mengajak anak-anak dan istrinya—sesuatu yang jarang ia lakukan. Tidak hanya sampai di situ, kawan-kawannya juga patungan untuk uang saku Hasan.  Buat jaga-jaga atau pegangan agar ketika anak-anak Hasan minta jajan ini-itu bisa dituruti.

Indah bukan ukhuwah itu?

Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).”

“Al Akh yang tulus,” lanjut beliau, “Melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama daripada dirinya. sendiri, karena ia, jika tidak bersama mereka, tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan orang lain. Dan sesungguhnya serigala hanya makan kambing yang terlepas sendirian. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain.

Al Banna menetapkan tiga pilar ikatan ukhuwah, yakni ta’aruf, tafahum, dan takaful. Tentang ta’aruf, saling mengenal, beliau menasihatkan untuk saling mengenal dan saling berkasih sayang dengan ruhullah, menghayati makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara sesama anggota, berusahalah agar tidak ada sesuatu pun yang menodai ikatan ukhuwah, dan menghadirkan selalu bayangan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits tentang ukhuwah.

Seperti yang dialami Hasan dengan kemiskinan dan kawan-kawannya di halaqah, tentang takaful, saling menanggung beban, yang merupakan pilar ketiga dalam ukhuwah, Al-Banna berpesan agar saling memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkret iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari mereka senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu, serta menghadirkan di dalam benak tentang hadits-hadits tentang tolong menolong dan fadhilahnya.

Kawan-kawan yang baik dan sholeh memang ‘can’t buy’. Jagalah mereka seperti kita menjaga diri sendiri. Ukhuwah, hal yang terlalu langka di zaman yang makin renta. Halaqah tak melulu tentang politik, politik lalu ke agenda politik lain.

Di akhir menjelang perpisahan rihlah, ketika acara makan-makan usai dan para ikhwah sudah bubar, seorang istri kawan melihat istri Hasan memungut sisa-sisa makanan yang ada di piring atau mangkok. Satu per satu memasukkannya ke kantong kresek lalu diberikan ke anaknya.

Ada yang sesuatu yang mengetuk dada. Entah apa.

Muhammad Sholich Mubarok
Mahasiswa STIU Al-Hikmah Jakarta
@paramuda

Sumber: PiyunganOnline

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s