Sebuah Goresan tentang Harapan

Kawan..
Di sinilah saya tinggal
Sebuah negeri yang elok
Dengan kekayaan alam melimpah

Namun..
Itulah ironi pertama kawan..
Negeri kaya ini hanya ilusi nyata
Makanan di depan mata
Hanya bisa dipandang, tidak boleh dijamah
Karena sudah hilang hak milik
Dibeli para penjajah dengan label investasi
Dijual murah para penguasa
Dengan label kesejahteraan masyarakat

Kawan..
Di sinilah saya tinggal
Sebuah negeri yang ramah
Penduduknya penuh senyum

Namun..
Itulah ironi berikutnya kawan..
Keramahan itu sudah dibeli oleh uang
Kapitalis sudah mengatur apa yang baik dan tidak
Sebuah senyum hanya untuk menjual produk
Atau untuk para calon pemilih saat kampanye
Keramahan bisa dijual degan harga sebatang rokok
Atau lembaran uang ribuan lecek
Keramahan itu tergadai hanya berbeda warna baju
Atau hanya berbeda klub sepakbola

Kawan..
Di sinilah saya tinggal
Sebuah negeri yang penduduknya pembenci koruptor
Yang minta koruptor dihukum mati saja

Namun..
Itulah ironi yang lain kawan..
Negeri pembenci korupsi yang masih ingin hidup instan
Memilih pemimpin karena lembaran
I Gusti Nugrah Rai atau peci Soekarno-Hatta
Mudah terbuai dengan janji manis
Dan bungkusan indah para koruptor

Tetapi kawan..
Di sini saya masih menyimpan harapan
Kepada orang-orang pintar
Kepada orang-orang yang paham agama
Yang tetap bekerja dalam senyap
Jauh dari keramaian kamera dan mikrofon wartawan
Karena mereka tidak punya waktu untuk wawancara
Mereka tidak punya uang untuk mendatangkan media

Kawan…
Negeriku butuh orang-orang itu
Mereka yang waktunya banyak untuk membantu masyarakat
Walau ia bukan pejabat
Mereka yang tetap peduli
Walau masyarakat tidak peduli padanya
Mereka yang tetap tersenyum
walau orang mencibirnya
Karena mereka tahu, mereka berbuat bukan untuk uang
Bukan untuk prestise
Bukan untuk beberapa lembar kertas dengan tulisan penghargaan
Mereka hanya butuh balasan dari Tuhannya

Kawan..
Masih ada harapan di negeriku

Masih ada…

by Rahil
#Suatu siang di SMP IT Darul Hikmah#

ps. mungkin ada seri berikutnya 🙂

Iklan