Antara Kisah Muslimah di Pasar Bani Qainuqa & kisah Muslimah Rohingya di Rudenim – Medan

Beberapa waktu yang lalu, hangat berita mengenai tewasnya 8 orang pencuri ikan asal Myanmar di tangan muslim rohingya di Rumah detensi imigrasi (rudenim) di Belawan, Medan pada Jumat (05/04) dini hari. Hal ini mejadi perbincangan di media massa nasional.

Persoalannya mungkin bagi sebagian orang sekarang adalah hal yang sepele, yakni perkara intip-mengintip.

Kejadian bermula karena ulah salah seorang pencuri ikan asala Myanmar itu kerap mengintip muslimah Rohingya ketika mandi. Muslimah tersebut mengadu kepada rekan-rekannya. Mengetahui hal tersebut, salah seorang ulama pengungsi Rohingya mendatangi para pencuri ikan untuk menasihati dan memperingatkan perbuatan tidak senonoh mereka. Merasa tidak senang, salah seorang dari kawanan pencuri ikan malah menusuk ulama Rohingya. Ketika ulama Rohingya berteriak, teman-temannya melompat untuk membantu. Dan hasilnya adalah terbunuhnya 8 pencuri ikan asal Burma penganut Hindu di pusat imigrasi.

Mungkin bagi orang-orang yang hanya mengandalkan pikiran-pikiran mereka yang telah terkontaminasi sifat-sifat liberal, apa yang dilakukan oleh Muslim Rohingya tersebut keterlaluan. Memang jika dilihat dari kondisi kekinian, benar pendapat2 mereka tersebut, namun berbeda jauh jika hukum Islam benar-benar ditegakkan, dan mereka akan meliaht betapa Islam benar-benar melindungi dan menjaga martabat dan harga diri seorang wanita.

Tidak dapat dipungkiri, ketika membaca berita tersebut, saya langsung teringat akan kejadian di masa Rasulullah di Pasar Bani Qainuqa – Madinah.
Pada saat itu seorang Muslimah memiliki suatu keperluan di kedai emas seorang Yahudi. Di sana juga ada beberapa orang Yahudi yang kemudian menggoda Muslimah itu dan memintanya untuk membuka Hijabnya. Tentu saja muslimah tersebut menolaknya. Kemudian tama sepengetahuan muslimah tersebut, si yang punya kedai mengikatkan ujung bawah baju muslimah tersebut sehingga ketika ia berdiri, tersingkaplah auratnya. Melihat itu, orang-orang yahudi tadi tertawa terbahak-bahak. Muslimah tersebut yang mengetahui perbuatan tukang emas itu, berteriak meminta pertolongan. Terikannya didengar oleh seorang sahabat dan langsung menolong muslimah tadi dan berakhir dengan terbunuhnya Yahudi tukang emas tersebut. Melihat itu, yahudi lainnya yang melihat kejadian itu, langsung mengeroyok dan membunuh sahabat tersebut.
Ketika berita di pasar itu sampai ke telinga Rasulullah,  beliau langsung mengumpulkan tentaranya, dan memberikan bendera perang kepada Hamzah bin Abdul-Muthalib. Lalu mereka menuju Bani Qainuqa. Ketika melihat Kaum Muslimin, orang-orang Yahudi segera berlindung di balik benteng-benteng mereka. Pasukan Rasulullah Saw. mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari pada bulan Syawal hingga awal Dzulqaidah tahun 2 Hijriah.
Kisah ini berakhir dengan diusirnya Yahudi (dengan permintaan si munafik Abdullah bin Ubay) dari Madinah dan tidak boleh hidup berdampingan dengan kaum muslimin.

Kisah pada masa Rasulullah, jelas nampak bagaimana Islam betul-betul menjaga kehormatan wanita. Dan itulah yang dilakukan oleh Muslim Rohingya tersebut. Hal yang tidak akan bisa dipahami oleh orang yang berpikiran sempit dalam pemahaman agamanya. Namun Itulah ajaran Islam.

Disayangkan memang, kebanyakan sekarang bukan lagi wanita yang ingin dijaga kehormatannya namun wanita itu sendiri yang menjatuhkan harga diri dan kehormatannya dengan tidak menjaga nilai-nilai Islam dalam dirinya sebagai seorang muslimah.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s