MASYARAKAT DAN MEDIA PEMBENTUK OPINI

Seorang anak kecil bernama Andi (tidak nama asli) memulai hari pertama sekolahnya dengan semangat. Dia membawa karayon warna warni dan kemudian menggambar. Andi memenuhi kertas gambarnya dengan warna-warni indah yang pernah dia lihat.
Guru anak kecil itu melihat dan menegurnya.
“Apa yang kamu lakukan Andi?”
“Saya menggambar bunga Buk.” Jawab Andi.
“Sekarang bukan saatnya pelajaran kesenian, Andi. Dan lagian bunga itu hanya merah dan hijau” Jawab gurunya.
“Sekarang bukan waktunya bermain. Waktu saya sekarang adalah untuk mengajar kalian semua dalam kelas ini, bukan utuk satu orang saja.” Lanjut guru tersebut.
Kemudian Andi diingatkan lagi oleh gurunya itu
“Ingat ya andi Bunga itu merah dan Daun itu Hijau seperti yang digambarkan oleh teman-temanmu.”
“Tapi begitu banyak warna pada pelangi, begitu banyak warna saat matahari pagi terbit, dan saya melihat banyak warna pada bunga-bunga” Bantah Andi.
“Jangan membantah Andi.!! Tidak boleh dengan warna lain, ikuti seperti teman-temanmu gambarkan..!!” Bentak gurunya.
“Tapi Buk..!!” Andi mencoba menjawab lagi.
“Andi, bediri di sudut kelas..!!” Perintah gurunya
Kemudian Andi berdiri di sudut kelas dengan perasaan sedih. Karena menurutnya apa yang dia sampaikan itu benar. Dia melihat banyak warna bunga di kebunnya, atau ketika ia bermain-main di taman dengan keluarganya. Dia melihat banyak warna indah di setiap matahari terbit atau saat matahari tenggelam, atau ketika hujan rinai yang disinari matahari sehingga memunculkan warna-warni indah pelangi. Dalam hatinya ia msaih tidak bisa menerima apa yang dikatakan gurunya itu.
“Ini untuk kebaikanmu Andi. Kamu akan berdiri di sana sampai kamu melakukannya dengan benar.” Kata gurunya.
Sepanjang pelajaran Andi berdiri di sudut kelas dan setiap saat disindir oleh gurunya itu. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Bahkan teman-teman sekelasnya berpikiran sama dengan gurunya itu. Dan akhirnya Andi mulai menyerah dan berkata.
“Baik buk… Bunga itu merah dan daun itu hijau. Kita tidak perlu warna lain untuk menggambarkan bunga.” Kata Andi dengan terpaksa karena semua yang di dalam kelas tidak ada yang mendukungnya.

——– 0O0 ——

Cerita di atas saya rangkai dari lirik lagu Flowers Are Red oleh Harry Chapin, namun untuk lagunya yang saya dengar adalah yang dibawakan oleh Dawud Wharnsby Ali dalam album Allah Knows (Zain Bikha).

Mungkin bagi setiap orang yang memperhatikan liriknya, punya pendapat sendiri-sendiri mengenai makna dari lagu tersebut. Ada yang berpendapat kalau ini adalah bentuk cara bagaimana menerima pendapat, atau ada juga yang menyatakan bentuk kebencian. Namun di sini saya melihat dengan cara berbeda, yakni bagaimana sebuah skenario untuk membentuk opini lewat media.

Bagi orang0orang yang percaya dan mengikuti teori-teori konspirasi, mereka berpendapat kalau segala sesuatu yang terjadi dalam dunia terutama perpolitikan, ada sebuah konspirasi global yang bekerja di situ. Tentang pengaturan siapakah presiden suatu negara, atau pengaturan negara mana yang harus selalu menjadi negara miskin (dalam bahasa lunaknya, negara berkembang) dan lain sebagainya. Ya, yang namanya konspirasi itu bisa dipercaya boleh tidak. Kalaupun kita mempercaya itu ada dan hal itu benar2-benar terjadi, maka perlu kerja ekstra keras dalam pembuktiannya.

Konspirasi, bagi para aktor-aktor yang terlibat di dalamnya bukanlah sebuah kerja mudah. Penuh dengan trik dan intrik kotor. Ini melibatkan banyak hal, orang dan senjata dalam hal ini  media dan pendukung. Segalanya dibuat secara terstruktur kalau perlu intimidasi terhadap pihak-pihak tertentu. Semuanya harus bisa mengkondisikan segala sesuatu sesuai keinginan aktor utama dari konspirasi itu.

Cerita di atas, bagi saya adalah contoh sederhana sebuah konspirasi berjalan.
1. Di sana ada permainan kekuasaan yang diibaratkan dengan seorang guru,
2. Ada “senjata” berupa media atau pihak-pihak yang mendukung untuk mencapai target konspirasi itu yakni ibarat siswa lainnya di kelas.
3. Ada target konspirasi. Target konspirasi itu adalah masyarakat awam dan korban konspirasi.
Kenapa masyarakat awam juga sebagai target? Hal ini adalah untuk membentuk opini mayoritas masyarakat bahwa si “target Korban” adalah benar-benar bersalah. Sebagaimana si Andi yang pada awalnya keukeuh dengan pendapatnya bahwa bunga memiliki banyak warna, lama kelamaan akan goyah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh gurunya itu. Sehingga konspirasi bisa berjalan lancar serta mendapatkan dukungan dari masyarakat.
4.Terakhir, bahwa konspirasi memiliki  sebuah tujuan. Baik itu dari segi ekonomi ataupun politik yang menguntunkan bagi si aktor utama dan kroni-kroninya-

Memang, konspirasi yang melibatkan media sangat efektif untuk dilakukan. Dan hal ini menurut saya sangat dipahami oleh orang-orang perpolitikan atau para produsen produk.

Misalkan dalam iklan kosmetik. Produsen kosmetik melakukan konspirasi dengan media iklan dan media massa untuk membuat opini masyarakat. Bahwa cantik itu adalah putih,  atau kuning lansat dan lain-lain. Atau dalam iklan lain menyampaikan kalau pria mapan dan keren itu adalah yang merokok. Dengan ditanyangkan iklan tersebut secara terus menerus, ini dengan sendirinya akan merubah pola pikir dan cara pandang masyarakat -sebagai target mereka- berpikir sebagaimana mereka harapkan. Sehingga produk mereka laris manis di pasaran.

Sebenarnya kalau masyarakt berpikir cerdas, apa-apa yang disampaikan dalam iklan itu tidak selamanya benar. Kalau persepsi cantik itu adalah putih bersih, maka tentunya saudara-saudara kita di Papua atau di Benua Afrika yang notabene memiliki warna kulit lebih gelap tidak tergolong cantik. Toh, mereka memiliki persepsi cantik tersendiri. Apalagi kalau iklan rokok yang menyatakan lelaki sejati itu merokok atau kalau lagi rame-rame itu ngga asik kalau ngga merokok. Padahal dalam banyak artikel menyebutkan kalau rokok itu tidak baik untuk kesehatan dan bisa membuat laki-laki menjadi tidak laki-laki.

Dalam dunia politik, konspirasi bisa melibatkan banyak pihak dalam jaringan yang kompleks. Saya tidak akan menuliskan lagi bagaimana konspirasi di dunia politik ini. Karena polanya akan sama namun aktor-aktor di didalamnya yang akan lebih banyak dengan target yang jauh lebih besar, yakni sebuah pemerintahan negara ataupun dunia.

Bagi saya, sekarang ini masyarakat harus cerdas dalam menyimak berita-berita menyangkut politik dan kasus-kasus para politikus di televisi, koran, atau media besar lainnya di website.  Karena pada umumnya media-media itu sudah beraliansi dengan partai politik tertentu. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi pemberitaan di media tersebut. Mereka akan menyetting pemberitaan untuk membentuk opini masyarakat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka akan gencar meberitakan kesalahan2 lawan politik si pemilik media dan adem ayem saja ketika lawan poltiknya itu ternyata terbukti tidak bersalah. Bahkan dalam tanyangan-tayangan dialog, si presenter dengan lihainya menyusun pertanyaan untuk menyudutkan salah satu pihak. Mungkin pembaca bisa membuktikan sendiri dengan melihat-lihat konten berita dari  dua televisi berita yang ada di Indonesia ini, keduanya dimiliki masing-masing oleh ketua partai yang dulunya satu kemudian pecah kongsi. Pada Channel satunya jangan berharap banyak akan muncul pemberitaan soal Lapindo, dan di channel satunya lagi ngga perlu manunggu-nunggu berita soal pengunduran diri massal kader dari partai yang baru berdiri.

Muncul pertanyaan, bisakah seorang pimpinan menyetir berita? Bukannya Jurnalis itu memiliki idealisme dan kode etik?
Saya meyakini, bahwa masih banyak jurnalis yang memiliki idealisme dan menjalankan kode etiknya. Namun dalam tubuh media, bukan jurnalis atau wartawan yang memiliki kuasa menentuakan mana berita bagus, mana berita tidak bagus. Semua itu ada pada redaktur berita. Ketika berita itu sampai di meja redaksi, tidak penting berita itu sangat bagus, kalau menurut redaktur itu tidak akan booming atau menaikkan oplah penjualan, tidak akan dimasukkan dalam berita utama. Sykur-syukur masih masuk dalam berita yang akan diterbitkan ke masyarakat dengan sekadarnya.

Sebagai masyarakat yang memiliki hak uantuk mendapatkan berita yang benar dan valid, dan media memiliki kewajiban untuk memenuhi hak dari masyarakat tersebut. Sangat disayangkan memang ketika media sudah dimanfaatkan untuk membangun opini menyesatkan atau tidak berimbang di tengah-tengah masyarakat tanpa bisa dicegah, karena mereka berlindung dibalik UU pers.

Sekarang saatnya masyarakat cerdas menerima setiap berita-berita di yang biasa didengarkan atau dibaca di media yang biasa. Kita tidak bisa menyalahkan media karena kita tidak bisa membuktikan. Atau seperti kata @Iswandisyah, “Karena media maha kuasa tidak bisa digeledah dan diperiksa, maka publiklah yang harus dibangun kesadarannya.”

—– 0O0 —–

Sekian dulu tulisan saya siang ini. Nanti kalau belakangan teringat ada yang harus ditambahkan, maka akan saya tambahkan. Dan berhubung saya hanyalah penulis dadakan yang membicarakan apa-apa yang terasa dengan ilmu penulisan dan latihan sekedarnya, saya mohon kritik dan saran dari pembaca untuk kebaikan bersama.

messaging_attachment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s