Mengungkap Pemikiran Sesat Jaringan Islam Liberal (JIL)

Oleh : Prof. KH. Ali Mustafa Yakub, MA

Jaringan Islam Liberal (JIL) adalah sebuah pemikiran yang sifatnya liberal, yang menurut mereka tidak terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks tersebut. Dalam implementasinya pemikiran ini dapat disebut meninggalkan teks sama sekali, dan hanya menggunakan rasio dan selera belaka.

Ditinjau dari sudut kebahasaan. penggandengan antara kata “Islam” dan “Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam pengertian tidak harus tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis), Oleh karena itu, pemikiran liberal sebenarnya lebih tepat disebut “Pemikiran Iblis” dari pada “Pemikiran Islam”, karena makhluk pertama yang tidak taat kepada Allah adalah Iblis.

Lebih jelasnya, di bawah ini kami cantumkan point-point pemikiran kelompok JIL tersebut yang kami kutip dari berbagai sumber:

  • Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab munusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat. Karena itu larangan perkawinan antara wanita muslimah dengan pria non muslim sudah tidak relevan lagi
  • Produk hukum Islam klasik (fiqh) yang membedakan antara muslim dengan non muslim harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal manusia.
  • Agama adalah urusan pribadi, sedangkan urusan Negara adalah murni kesepakatan masyarakat secara demokratis.
    Hukum Tuhan itu tidak ada. Hukum mencuri, zina, jual-beli, dan pernikahan itu sepenuhnya diserahkan kepada umat Islam sendiri sebagai penerjemahan nilai-nilai universal.
  • Muhammad adalah tokoh histories yang harus dikaji secara kritis karena beliau adalah juga manusia yang banyak memiliki kesalahan.
  • Kita tidak wajib meniru rasulllah secara harfiah. Rasulullah berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam universal di Madinah secara kontekstual. Maka kita harus dapat menerjemahkan nilai itu sesuai dengan konteks yang ada dalam bentuk yang lain.
  • Wahyu tidak hanya berhenti pada zaman Nabi Muhammad saja (wahyu verbal memang telah selesai dalam bentuk al-Qur’an). Tapi wahyu dalam bentuk temuan ahli fikir akan terus berlanjut, sebab temuan akal juga merupakan wahyu karena akal adalah anugerah Tuhan.
  • Karena semua temuan manusia adalah wahyu, maka umat Islam tidak perlu membuat garis pemisah antara Islam dan Kristen, timur dan barat, dan seterusnya.
  • Nilai islami itu bisa terdapat di semua tempat, semua agama, dan semua suku bangsa. Maka melihat Islam harus dilihat dari isinya bukan bentuknya.
  • Agama adalah baju, dan perbedaan agama sama dengan perbedaan baju. Maka sangat konyol orang yang bertikai karena perbedaan baju (agama). semua agama mempunyai tujuan pokok yang sama, yaitu penyerahan diri kepada Tuhan.
    Misi utama Islam adalah penegakan keadilan. Umat Islam tidak perlu memperjuangkan jilbab, memelihara jenggot, dan sebagainya.
  • Memperjuangkan tegaknya syariat Islam adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menyelesaikan masalah secara arasional. Mereka adalah pemalas yang tidak mau berfikir.
  • Orang yang beranggapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan syariat adalah orang kolot dan dogmatis.
  • Islam adalah proses yang tidak pernah berhenti, yaitu untuk kebaikan manusia. Karena keadaan umat manusia itu berkembang, maka Agama (Islam) juga harus berkembang dan berproses demi kebaikan manusia. Kalau Islam itu diartikan sebagai paket sempurna seperti zaman rasulullah, maka itu adalah fosil Islam yang sudah tidak berguna lagi.

Itulah beberapa pemikiran pokok dari jaringan Islam Liberal (JIL).

Selanjutnya sebelum kita menentukan sikap kita terhadap kelompok tersebut, kita perlu tahu apakah pemikiran liberal itu dibenarkan al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu kami akan mencoba melihat dari dua hal, yang pertama adalah nama kelompok itu sendiri, dan yang kedua substansi pemikiran-pemikirannya.

Ditinjau dari sudut kebahasaan. penggandengan antara kata “Islam” dan “Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam pengertian tidak harus tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis), Oleh karena itu, pemikiran liberal sebenarnya lebih tepat disebut “Pemikiran Iblis” dari pada “Pemikiran Islam”, karena makhluk pertama yang tidak taat kepada Allah adalah Iblis.

Sementara dari sisi substansinya, seperti yang terlihat pada point-point yang tersebut di atas, sebut saja misalnya pendapat mereka yang membolehkan lelaki yahudi (non muslim) menikahi wanita muslimat. Pemikiran iblis liberal ini tidak mendasarkan sama sekali terhadap al-Qur’an dan Hadis. Ia hanya mendasarkan pemikirannya kepada rasio dan selera. Padahal al-Qur’an dengan tegas mcnyatakan bahwa wanita muslimat tidak halal dinikahi lelaki kafir dan lelaki kafir tidak halal menikahi wanita muslimat.

Demikian penegasan Allah dalam Surat al-Mumtahanah ayat 10, Dalam hal ini, ahli tafsir kondang al-lmam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’a’n al-Adzim menyatakan bahwa ayat inilah yang mengharamkan wanita muslimat dinikahi orang musyrikin (non muslim}. Demikian pula yata 5 Surat al-Maidah. Keharaman ini juga ditegaskan dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-lmam al-Thabari. Sementara itu, para shahabat dan ulama sejak zaman rasulullah hingga sekarang tidak ada yang menghalalkan pernikahan lelaki non muslim dengan muslimah.

Oleh karena itu, pemikiran kelompok liberal ini bertentangan dengan al-Quran, Hadis, dan ijma’ (consensus) ulama.

Selanjutnya, bagaimana sikap kita terhadap mereka?

Jawabannya adalah:

Kita jangan sekali-kali mengikuti pemikiran-pemikiran mereka, karena al-Qur’an menegaskan dalam Surat al-Ahzab ayat 36,

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata”.

Pengertian “faqad dhalla dhalalan mubina” (sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata) ditafsiri dengan ayat 63 Surat al-Nur,

“…maka orang-orang yang menyalahi perintah rasul-Nya hendaknya mereka takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.

Orang yang tersesat dengan kesesatan yang nyata akan ditimpa azab yang sangat pedih, dan siksa yang pedih tidak ada lagi kecuali neraka. Maka mengikuti pemikiran liberal dapat menyesatkan dengan kesesatan yang nyata, dan bahkan dapat menyebabkan orang yang bersangkutan kafir, misalnya apabila ia menentang al-Qur’an dan atau Hadis.

Kepada orang yang mengikuti pemikiran liberal ini, kita menganjurkan agar mereka segera bertobat dan kembali pada jalan yang benar. Apabila mereka mau bertobat, maka mereka kembali menjadi orang-orang Islam. Namun apabila mereka tidak mau bertobat, maka hukum Islam menegaskan bahwa orang-orang yang murtad wajib dihukum mati.

Sumber

11 pemikiran pada “Mengungkap Pemikiran Sesat Jaringan Islam Liberal (JIL)

    • Yup, tq Infonya..
      Di sini saya menkritisi Jaringan Islam Liberal. Bukan Prof. Ali Mustafa Ya’qub, MA ataupun HNW.
      Soalnya kalau mengkritisi seseorang, siapapun bisa dengan pandangannya masing2..
      Trims sebelumnya karena dah berkunjung k blog ini..

      • Maaf. Anda hanya berapologia. Saya lebih suka membaca karangan Ahmad Wahib karena keilmuan dia sangat baik entah dari segi agama maupun intelektual. Saya bukan anggota JIS tapi dengan tegas saya katakan bahwa ajaran-ajaran Islam belum bisa dikatakan sempurna karena relvansinya ada yg sudah usang. Sekiranya Islamisasi hari terjadi,maka kita seperti manusia abad 6 yang hidup di abad 21. Karena Islam sendiri tidak pernah memiliki produk-produk sosial,ideologi,sains,teknologi dsb. Namun sekiranya kita tidak mau melakukan kajian ulang terhadap ajaran-ajaran yg ada,jadi terimalah bahwa Islam hanya sebatas agama samawi,teologis serta transendal yg tidak bisa mengait dengan masalah-masalah duniawi. Sederhananya,Islam harus menerima sekularisasi. Dan cukup berfokus pada akhirat saja.

      • Anda Muslim?
        Jika iya, mungkin anda mempelajari dari orang yang tidak tepat dan menggunakan kacamata kuda untuk itu (Taklid). Kalau anda mau belajar, anda pasti tahu bahwa semua yang dilakuakn di keseharian ini diatur dalam Islam. Jangankan untuk berpolitik, mengurus negara, bertetangga, untuk buang hajat di kamar mandi saja ada adabnya yang diatur dalam Islam.

  1. Assalamualaikum.
    Yaa Allah, aku bersyukur engkau telah membimbing manusia kearah kemajuan tehnologi informatika, sehingga hambaMU yaa Allah dapat langsung belajar dari informasi yang ada di dunia may, tidak lagi dari mereka yang menjerumuskan. Semua informasi kubaca. apakah itu dari Islam dan dari bukan islam, sehingga aku dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah, karena nabipun belajar dari kehidupan saat itu dengan berbagai aliran agama, kebudayaan padang pasir, dan pengaruh budaya lainnya.
    Apa yang aku risaukan dalam kehidupan ini, kucari jawaban yang ada dari kedua belah pihak, sehingga aku mendapat jawaban yang terbenar, walaupun seperti prof Yacub menyarankan untuk jangan bertanya mengenai kehidupan nabi, Qur’an, maupun hadist. Alhamdulilah aku dapat mengajukan pertanyaan yang tidak disarankan tadi pada mas google, dan dapat jawaban dengan sangat rinci, tidak ada lagi yang disembunyikan, yang semua itu sebenarnya diambil dari hadist yang ada juga, walaupun dengan penafsiran yang lebih logisssssss.
    Jadi alhamdulilah aku tidak lagi dibohongi oleh cerita yang telah berkembang dari zaman dulu hingga zaman sekarang, yang semua itu harus didasarkan bukti yang obyektif, bukan katanya katanya…….. wkwkwk
    Wassalam

    H. Bebey

  2. pendapat tersebut bisa dibaca di web/ di blog mana ya?
    -kepo-

    bukannya ga percaya, cuma pengen tau aja bagaimana pandangan mereka aja

  3. emang kemunduran umat islam dunia sangat ditentukan, 1. cara berpikikir para ulamanya yang salah, bahwa umat islam harus mengikuti hukum syariat islam, syariat islam itu khan hukum hidupnya para masyarakat yang jahiliyah, klo masyarakat beradab kayak indonesia ya tidak bakalan sesuai. 2. masyarakat dunia itu selalu maju dan mau berpikir untuk maju, sedangkan para ulama malas berpikir dan selalu berpatokan hadits dan kitab kuning yang diterjemahkan sesuai kepentingan politik ulama jaman dulu, harusnya berubah karena masyarakat jaman dulu dan jaman sekarang pinter pinter manusia jaman sekarang, oke sekian dulu tar klo banyak banyak para ulama yang kepingin tetap eksis tapi malas berpikir semakin akan terpinggirkan

    • Jawaban yang sangat logis saudara Yanto, akan tetapi saya tidak setuju dengan pendapat anda bahwa Ulama adalah orang-orang yang malas dan hukum syariat tidak sesuai dengan bangsa Indonesia yang ‘katanya’ beradab. Alqur’an dan hadits adalah pedoman hidup umat islam yang mana di dalamnya membahas hampir semua aspek kehidupan dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari individu hingga pada urusan yang lebih besar seperti negara dan pemerintahan. Artinya, pun para ulama mempelajari alquran dan hadits bukan berarti mereka malas dan mengabaikan kehidupan dunia. Akan tetapi mereka meyakini bahwa segala yang mereka lakukan haruslah seperti apa yang terdapat dalam Qur’an dan Hadits agar mereka tidak menjalani kehidupan ini berdasarkan akal manusia yang seringkali dikuasai nafsu belaka. Bukankah yang pantas dijuluki malas adalah mereka yang menjalani kehidupan tanpa berpedoman pada Qur’an dan Hadits? sebagai contoh para pengusung JIL yang seenaknya membuat peraturan hanya berdasar akal dan nafsu mereka. Kemudian dari sisi mana anda sebut bangsa Indonesia ini bangsa yang beradab? Sudah bukan rahasia lagi zina menyebar dimana-mana. Anda sebut ini beradab? Pencurian, perampokan, pembunuhan, apakah ini tindakan beradab? Perempuan berpakaian seksi sehingga marak terjadi pemerkosaan, inikah adab orang Indonesia? Segala perilaku manusia pun semua sudah diatur dalam pedoman Quran dan Hadits, manusia dikatakan beradab jika perilakunya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Bangsa Indonesia ini masih harus banyak belajar untuk bisa disebut sebagai bangsa yang beradab.Mari sama-sama belajar.

  4. Jaringan Islam Liberal (JIL) adalah sebuah pemikiran yang sifatnya liberal, yang menurut mereka tidak terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks tersebut. Dalam implementasinya pemikiran ini dapat disebut meninggalkan teks sama sekali, dan hanya menggunakan rasio dan selera belaka.

    Mencoba untuk mendiskusikan paragraf di atas.

    “menurut mereka tidak terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks tersebut”.

    Menurut saya, ini jauh lebih baik, dari pada hanya sekedar membaca teks-teks Al-Quran dan Al-Hadis, akan tetapi tidak pernah mengamalkan atau mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis tersebut. Bukankah, Rasulullah itu di utus untuk memperbaiki Ahlak Ummat Manusia di muka bumi ini, artrinya Al-Quran dan Hadis itu untuk di Amalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar untuk di baca atau jadi pajangan.

    “Dalam implementasinya pemikiran ini dapat disebut meninggalkan teks sama sekali, dan hanya menggunakan rasio dan selera belaka”

    Jika kita mencari tahu nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadis agar kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan kita, tidak mungkin kita memisahkan diri dengan Teks.

    Dengan demikian Paragraf tersebut berisi hal yang kontradiksi.

    Menurut saya :
    Agama Islam yang Ajarannya berdasarkan Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW, untuk di amalkan (membentuk manusia Islam yang berahlak Qurani). Al-Quran dan Hadis bukan sekedar untuk di baca. Shalat bukan sekedar shalat, harus ada repleksi dalam kehidupan bermasyarakat setelah shalat.

    Mari kita tunjukkan pada dunia, bahwa penganut Islam itu Berakhlak mulia (titik berat pada pengamalan nilai-nilai luhur yang terkandung dlm Al-Quran dan Hadis).
    Mari kita terus mempelajari Al-Quran dan Hadis untuk menemukan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, agar kita bisa mengamalkannya. (Tidak akan lepas dari Teks, untuk keperluan kajian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s