Bau Sangit Gelar Knight

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima gelar ‘Knight Grand Cross in the Order of Bath’ dari Kerajaan Inggris. Gelar itu cukup prestise di kalangan pemimpin negara. Namun, gelar ini bak mengiris masyarakat Indonesia karena diduga ada ‘barter’ dengan Gas Tangguh.

Dulu Presiden Soeharto pada 1967 melepaskan Freeport di Timika Irian Jaya kepada Amerika (AS), membuat warga Papua meratap pilu. Dan kini warga Papua kembali menangis karena ladang Gas Tangguh dilepas Presiden SBY kepada Inggris.

Kunjungan Presiden SBY ke Inggris menuai kontroversi. Pemberian konsesi proyek gas Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua, oleh Presiden SBY kepada perusahaan asal Inggris, British Petroleum, dipersoalkan publik.

Pasalnya, pengembangan lanjutan kilang LNG Tangguh itu tidak dilakukan secara transparan sehingga bisa mendorong tuntutan civil society agar dibatalkan. Presiden SBY bisa dipersoalkan dan dituntut pemerintah mendatang. Jadi tidak hanya skandal Century yang bakal dipersoalkan, kemungkinan kasus jual murah Tangguh ke Inggris juga bakal dipersoalkan.

Masyarakat menganggap bahwa pemberian konsesi proyek gas Tangguh Train 3 kepada British Petroleum dari pemerintah Indonesia merupakan barter dengan gelar Knight Grand Cross in the Order of Bath dari Ratu Inggris Elizabeth II kepada Presiden SBY.

Menurut Ketua Koalisi Anti Utang (KAU), Dani Setiawan, pemberian gelar terhadap SBY merupakan suap ala anglo saxon. Artinya kerajaan seperti Inggris mengerti betul psikologis SBY yang peduli pada citra dan popularitas. Pemberian gelar ksatria itu, imbuh Dani, cara yang digunakan sejak lama oleh negara maju untuk mendapatkan kepentingan ekonomi dan politik di Indonesia.

Dani membeberkan, hal serupa terjadi pada masa Megawati Soekarnoputri sat menjadi presiden. Sebelum menjual gas alam cair Tangguh secara murah ke China, Megawati melakukan pesta dansa dengan Presiden China saat itu, Jiang Zemin. Begitu juga saat Soeharto terkait pembelian pesawat tempur dari Inggris.
SBY mengulangi kesalahan Megawati yang dulu dikecamnya sendiri. Papua dijadikan korban bisnis oleh negara. Warga Papua menangis, sumber daya alamnya dijual murah ke Inggris.

“Agar fair dan tidak merugikan negara, pendapat saya, ini harus ditenderkan secara internasional dan bersaing dengan terbuka. Apalagi ini 60 persen dikuasai negara,” ujar pengamat perminyakan, Kurtubi dikutip dari inilah.com.

Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi hanya melakukan penunjukan terhadap BP Plc sebagai operator. Kalau melalui mekanisme penunjukkan, semestinya pemerintah menunjuk Pertamina.

“Ada baiknya SBY mengingat Pertamina sudah berpengalaman dan sudah berhasil membawa Lapangan Gas Badak Kaltim tanpa menggunakan APBN. Ini tanpa kecelakaan lebih dari 30 tahun dan sudah berhasil menjual dengan harga yang mahal ke Jepang,” tutur Kurtubi.

Sedangkan penguasaan LNG Tangguh diserahkan ke pihak swasta selama ini negara malah dirugikan. Hasil produksinya dijual dengan harga murah ke China. “Cara-cara ini semestinya digugat. Kalau ada ruang, ini harus dibatalkan. Apalagi pemerintah SBY yang tinggal dua tahun lagi. Ini berpeluang besar dituntut keras oleh penerus bangsa yang akan datang,” papar Kurtubi.

Istana Membantah
Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Julian Aldrin Pasha membantah kabar pemberian penghargaan dari Ratu Elizabeth II kepada Presiden SBY berkaitan dengan kontrak proyek Tangguh yang diberikan kepada BP.

“Pengharagaan yang diberikan dari Kerajaan Inggris serta dari organisasi internasional kepada Presiden tentunya berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh institusi pemberi penghargaan,” ujar Julian.

Julian mengatakan pemberian kontrak pemerintah RI kepada BPdalam proyek Tangguh telah melalui tahap-tahap proses yang panjang sehingga akhirnya terwujud letter of agreement di antara kedua pihak.

“Menghubungkan antara penghargaan Ratu Elizabeth II kepada Presiden SBY dan proyek itu merupakan hal yang terlalu mengada-ngada,” kata dia.

Jumat lalu, Presiden SBY dan sejumlah menteri bidang perekonomian memang mengadakan pertemuan dengan sejumlah petinggu perusahaan Inggris, termasuk Chief Executive BP Group Robert Dudley. Pertemuan dengan Dudley berlangsung selama 20 menit. Pertemuan itu diselenggarakan seusai acara forum bisnis Indonesia–Inggris Raya yang diselenggarakan oleh UK-ASEAN Business Council bekerja sama dengan UK Trade and Investment. Lebih dari 200 peserta hadir dalam acara yang berasal dari perusahaan multinasional asal Inggris ini.inl,tmp,ins

Sindiran hingga Ke-Islam-an Dipertanyakan
Pertanyaan demi pertanyaan yang masih diikuti oleh sindiran yang memelesetkan istilah gelar Knight SBY terus muncul.

Dalam sebuah jejaring mislanya dengan akun Moskowi mengatakan, “Knight Grand Cross in the Order of Bath terjemahan bebasnya: Ksatria Simpang Raya Sedang Ngantri Mandi.”

Ada juga dengan serius mengkirisi, “Pak Sby. kami rakyat Indonesia ngak melihat bapak seorang satria, aneh juga tu orang inggris… kalau bapak seorang satria harus nya bapak menghukum berat itu bandar Narkoba.Hukum mati tu yg korupsi memiskin kan rakyat.. seharus nya bapak ke Lampung dulu lihat tu perang di indonesia antar etnis.jagan cuma tau dari bawahan saja.. masa jokowi harus ngajari Presiden…,”tulis akun Max Bedon.

Kritikan pedas juga diungkapkan, TimsonElvin. “Dapat penghargaan gelar ksatria karna berhasil dijajah dlm bntuk ekonomi (inggris investor no.2 di indonesia) bangga amat iya.”

Pertanyaan lainnya, apakah dengan pemberian itu, Kerajaan Inggris tidak ada maksud terselubung? Sebab sangat mustahil negara maju seperti Inggris menghadiahkan sesuatu kepada seseorang warga negara asing tanpa kaitan dengan kepentingan nasional.

Selain bertanya dan sarkartis ada juga yang mencoba menganalisa kebijakan-kebijakan luar negeri negara bekas kolonialis itu. Masih segar dalam ingatan, hampir satu dekade lalu Inggris termasuk negara Eropa tidak mengizinkan pesawat Garuda milik pemerintah Indonesia mendarat di negerinya. Kebijakan ini diikuti oleh 26 negara Uni Eropa lainnya.

Kerugian melarang Garuda itu, sangat buruk bagi Indonesia. Selain Garuda harus menutup rute Eropa untuk sementara (sekarang sudah dibuka lagi), Presiden SBY sendiri beberapa tahun lalu sempat mengalami kesulitan untuk berkunjung ke Eropa. Sebab pesawat kepresidenan yang digunakannya-Garuda, tidak boleh menyentuh landasan di Uni Eropa.

Larangan itu terkait dengan penilaian Asosiasi Penerbangan Eropa plus regulator keselamatan penerbangan, bahwa Garuda tidak memiliki kelayakan terbang. Penilaian itu muncul karena pada satu periode, sejumlah pesawat Garuda mengalami kecelakaan.

Selain analisa tentang Garuda, kebijakan Inggris juga disoroti. Negara ini pernah mengembargo penggunaan tank Scorpion buatannya, yang dibeli Indonesia. Pemerintah Indonesia tiba-tiba dilarang menggunakan tank tempur itu untuk menghadapi kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh. Saat pelarangan itu diberlakukan, SBY menjabat Menko Polkam.

Pemberian gelar ini juga menuai kontroversi. Sebab sekitar sebulan sebelum keberangkatan SBY ke London, jaringan Istana yang mengurusi masalah media, mengangkat isu tentang adanya upaya sekelompok LSM di Inggris yang ingin menangkap Presiden SBY, jika ia berkunjung ke negara tersebut pada November.

Dari segi agama, Ketua Umum Taruna Muslim, ustadz Alfian Tanjung dikutip arrahmah.com mengaku meragukan ke-Islaman SBY. “Artinya SBY memang seorang yang split personaliti, karena dia juga pernah mengatakan bahwa kewarganegaraannya yang kedua adalah Amerika Serikat pada waktu hari kemerdekaan AS tahun 2005,” Kata Ustadz Alfian.

Kata ustadz Alfian, rasanya sudah cukup jika keIslaman SBY diragukan bila melihat tindak-tanduk keberpihakannya kepada kaum Kafir. “Lengkap sudah, kalau kita ingin mempertanyakan kemusliman dia (SBY), dia begitu gusar karena ditengarai sudah pernah menikah, dia banyak berkhidmad pada dukun dan lebih familiar dan akomodatif dengan kader PKI, dan seterusnya” tandasnya.

Pada momen seperti sekarang, semuanya menjadi tidak patut berhubung jutaan rakyat yang seharusnya juga mendapat proteksi dari Presiden. Presiden masih terkesan menonjolkan pencitraan.

Sejarah Gelar
Dalam situs resmi kerajaan Inggris royal.gov.uk, tertera informasi soal sejarah gelar tersebut. Pemimpin asing yang telah menerima penghargaan tersebut antara lain Presiden AS Ronald Reagen, Presiden Prancis Jaques Chirac dan Presiden Turki Abdullah Gul.

Informasi dalam situs tersebut menyebutkan, gelar the Order of Bath pada awalnya diberikan pada para tentara dan beberapa masyarakat sipil. Penerima gelarnya selalu pria.

Baru pada tahun 1971, ada seorang wanita yang diberi penghargaan tersebut untuk pertama kalinya.
Susunan pemberi gelar terdiri dari pemangku kedaulatan (ratu), seorang Great Master (Pangeran dari Wales) dan tiga anggota dari kelas berbeda.

Gelar ‘Bath’ sebetulnya berasal dari ritual mandi atau membersihkan diri, terinsipirasi dari mandi dalam proses pembaptisan. Ini adalah simbol dari upaya penyucian diri, sebuah proses persiapan seorang ksatria Inggris sebelum bertugas.

Penghargaan ini tak akan diberikan sebelum para kandidat sudah mempersiapkan diri dengan berbagai ritual seperti puasa, berdoa, dan membersihkan dirinya dengan mandi.

Kisah seremoni mandi untuk menciptakan seorang ksatria tercatat dilakukan oleh Raja William I. Saat itu dia memandikan bocah 15 tahun bernama Geoffrey Count of Anjou di tahun 1128 yang belakangan menjadi ksatria.

Pada saat pengangkatan Henry V sebagai raja tahun 1413, dia juga melakukan ritual yang sama untuk para ksatria. Namun akhir abad ke-15, ritual mandi ini mulai hilang. Namun seremoni pemberian gelar dengan sebutan ‘Knights of the Bath’ masih dilakukan.ins

Sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s