BERDAGANG DENGAN NON-MUSLIM (Bolehkah?)

Beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah berita tentang Presiden Mesir, Mohammed Mursi, mencari bantuan ke Eropa dalam rangka mencari bantuan untuk memulihkan kembali perekonomian Mesir pasca tumbangnya rezim Mubarak yang pergolakannya terjadi selama 18 bulan. Sekaligus untuk mengembalikan kembali kepercayaan Investor untuk bisa kembali berdagang di Mesir. Beritanya bisa dilihat di sini.

Namun berita ini menurut saya bisa menjadi berita tidak biasa ketika orang berbicara Ikhwanul Muslimin yang mana Mursi adalah anggotanya, melakukan kerjasama dengan Dunia Barat. Karena kita tahu bagaimana dari dahulu mereka sangat menentang Yahudi dan Hegemoni dunia Barat. Namun sekarang mereka malah mengajukan kerjasama. Munafikkah mereka? Padahal katanya mereka menjalankan ajaran Islam Ahlul Sunnah Wal Jama’ah yang sesuai dengan yang disampaikan oleh Rasulullah, Sahabat dan Tabi’in?

Tunggu dulu..!!!

Mungkin kalau kita berbicara tanpa menganalisa dahulu, kita akan menyatakan langkah yang diambil Mursi adalah salah. Namun sebenarnya apa yang dilakukan Presiden Mesir itu tidak dilarang dalam Ajaran Islam. Berikut penjelasannya:

>>>
Menjual barang kepada non muslim atau membeli barang yang dijual oleh non muslim pada dasarnya dibolehkan, dasarnya adalah Alquran, hadist, dan kesepakatan ulama.

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ

Dan sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) itu halal bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 5).

Sembelihan non muslim ahli kitab itu bisa jadi kita peroleh melalui jalan hadiah dan pemberian atau pun jual beli.

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتِ اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ يَهُودِىٍّ طَعَامًا وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan (baca: gandum) dari orang Yahudi secara tidak tunai dan beliau serahkan kepada orang Yahudi tersebut baju besi beliau sebagai jaminan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan bahan makanan dalam hadis di atas adalah gandum kasar.

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – دِرْعَهُ بِشَعِيرٍ

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggadaikan baju besi beliau untuk membeli gandum kasar secara tidak tunai.” (HR. Bukhari, no. 2373).

Ketika itu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhutang gandum saja kepada shahabat yang kaya namun malah memilih bertransaksi dengan orang Yahudi? Ada beberapa jawaban untuk menjawab pertanyaan ini:

  1. Nabi ingin menjelaskan kepada umatnya mengenai boleh bertransaksi jual beli dengan Yahudi dan itu bukanlah termasuk loyal kepada orang kafir.
  2. Atau ketika itu tidak ada shahabat yang memiliki bahan makanan yang berlebih.
  3. Atau Nabi khawatir jika beliau berhutang gandum dengan para shahabat, mereka lantas tidak mau dibayari, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin menyusahkan mereka.

Dalam shahih Bukhari terdapat bab yang judulnya ‘Bab menjual dan membeli barang dari orang orang musyrik dan orang kafir yang memerangi kaum muslimin’.

Di antara hadist yang beliau bawakan dalam bab ini adalah hadist sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ – رضى الله عنهما – قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً أَوْ قَالَ أَمْ هِبَةً » . قَالَ لاَ بَلْ بَيْعٌ . فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً

Dari Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu ‘anhu beliau bercerita ketika kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Datanglah seorang laki-laki musyrik yang postur tinggi badannya di atas rata-rata sambil menggiring kambing-kambingnya.

Lantas Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kambing kambing ini mau dijual ataukah dihibahkan?

Dia menjawab, “Dijual”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli seekor kambing darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

An Nawawi mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non muslim (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim, 10:218).

Jadi dibolehkan bermuamalah dengan non muslim selama barang yang menjadi objek transaksi bukanlah barang yang haram dan barang tersebut bukanlah barang yang akan digunakan non muslim tersebut untuk memerangi kaum muslimin. Sehingga rusaknya akidah dan keyakinan mereka serta jeleknya transaksi yang mereka lakukan dengan sesama mereka tidaklah kita pertimbangkan dalam hal ini.

Tentu saja kita sadari bahwa sebagian besar sumber pendapatan orang kafir adalah sumber sumber yang tidak halal dalam tinjauan agama kita baik dengan cara menipu, membungakan uang atau selainnya. Oleh karena itu, bolehnya bertransaksi jual beli dan selainnya dengan non muslim adalah dalil bolehnya bertransaksi dengan seorang muslim yang mayoritas hartanya berasal dari sumber yang haram. <<<

Sedangkan sebagai tambahan dapat dibaca “Halal dan Haram Dalam Islam” oleh Yusuf Qardhawi di sini.

Alasan lain menurut saya, kenapa Mohammed Mursi meminta bantuan kepada Negara Barat adalah:

  1. Negara Mesir perlu pemulihan ekonomi secepatnya karena jika tidak, maka Mesir akan tenggelam dengan perekonomian yang hancur.
  2. Mesir tidak bisa terlalu berharap kepada negara2 timur tengah di sekitarnya, disebabkan perekonomian mereka umumnya masih tergolong belum bisa memberikan bantuan dalam jumlah besar.
  3. Bukannya tidak ada Negara- di Timur Tengah dengan perekonomian yang sudah bagus, seperti Turki (yang sudah diakui Eropa) dan Uni Emirat Arab. Turki sendiri sudah memberikan bantuan sebanyak 2 milyar dollar (Islamedia) kepada mesir. Namun sayang negara terdekat yaitu Uni Emirat Arab adalah negara yang antipati terhadap Ikhwanul Muslimin, dan tentunya sekarang juga antipati terhadap Mesir.

 

Jadi berdasarkan dalil-dalil yang ada, langkah-langkah yang diambil presiden  Mesir tidak menyimpang dari Syari’ah. Saya yakin setiap langkah yang diambil oleh Presiden yang Hafizh Alquran tersebut bukan semata-mata keputusan yang diambilnya atas anlisanya sendiri, namun sudah dibicarakan kepada orang-orang yang sudah memahami hal ini baik secara ekonomi maupun syari’ah.

Semoga bisa memberikan pencerahan. Namun jika ada yang salah dan perlu dikoreksi, silahkan disampaikan lewat kolom komentar sehingga pembaca lainnya juga bisa melihatnya..

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s