“SHAF LURUS DAN RAPAT..!!!”

Shaf Lurus dan Rapat..!!!

Bagi kita ummat muslim, tentunya tidak asing lagi dengan kalimat di atas. Kalimat itu merupakan perintah dari imam kepada makmum yang mengikutinya agar meuluskan dan merapatkan shaf sebelum memulai shalat berjamaah.

Akan tetapi, meskipun sudah sering mendengarnya, tidak semua orang yang memahami bagaimana Shaf shalat berjamaah yang lurus dan rapat tersebut. Mungkin sebagian kita yang paham, banyak menemuinya ketika melakukan shalat berjama’ah di mesjid, mushalla, atau tempat2 lainnya yg boleh dilaksanakan shalat. Adapun dalil mengenai persoalan ini adalah sbb:
أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”
HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Menurut saya,setidaknya ada 3 faktor kenapa kesalahan dalam Shaf Shalat Berjama’ah ini bisa terjadi.

Faktor Pertama: Imam
Dalam hadist di atas, perintah itu bukan semata-mata untuk makmum yang berdiri dalam Shaf-shaf, namun juga kepada imam. Sebagai Seorang yang memimpin jalannya shalat berjama’ah, Imam memiliki kewajiban memperhatikan keadaan makmum sebelum shalat berjama’ah dimulai. Namun saat sekarang sangat sering ditemui imam yang pada saat akan memulai shalat mengucapkan:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya (433) dari shahabat Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu)

dan terkadang ditambah dengan kata-kata “Shaf Lurus dan Rapat”, akan tetapi tidak sedikitpun  Sang Imam berpaling melihat kondisi makmum apakah sudah siap, dan apakah shaf mereka sudah rapi? Menurut saya, inilah kesalahan fatal imam yang sering ditemui.

Faktor Kedua: Makmum
Faktor ini lebih disebabkan karena ketidak tahuan dan ketidak fahaman bagaimana tata cara shalat berjama’ah yang benar sesuai dengan tuntunan syari’at. Hal ini ditunjang oleh Faktor Imam yang tidak peduli dengan keadaan makmum sebelum memulai Shalat Berjama’ah. Tidak lurus dan rapatnya shaf shalat juga ditunjang oleh Faktor Ketiga, yakni media alas Shalat atau sajadah yang digunakan.

Faktor Ketiga: Media / Sajadah Shalat
Lebih kurang seperti gambar berikut tikar shalat yang umumnya sering dipakai di Mesjid atau Mushalla:

Kenapa tikar shalat bisa jadi penyebab?
Kalau saya menanyakan kepada saudara, kalau akan shalat dimanakah posisi yang menurut anda nyaman untuk berdiri?
Dan sudah bisa saya tebak kalau sebagian besar akan menjawab tepat pada pertengahan illustrasi Mesjid di tikar tersebut. Nah, hal inilah yang menjadi penyebab. Ketika seseorang berdiri tepat di tengah2 satu gambar yg saya maksud, dan orang di sebelahnya juga berdiri dengan posisi seperti dia di sebelahnya, dapat dibayangkan betapa renggangnya shaf shalat kita.

Selain tikar Shalat seperti di atas, Penyebabnya adalah masing-makmum atau ada makmum yang membawa Sajadah sendiri dari rumahnya (Alasannya entah apa).

Jadi Seperti Apakah Kriteria Shaf yg Lurus dan Rapat tersebut.?

Kriteria untuk merapatkan Shaf sudah dijelaskan dalam hadist di atas, yakni bahu2 harus saling bersinggungan dan itulah yang dikatakan rapat.
Adapun untuk meluruskan shaf, tentunya perlu sesuatu yg menjadi patokan lurus tersebut. Hal yang paling mudah adalah dengan sama-sama mensejajarkan posisi tumit pada pinggir belakang tikar.

Dalam ilustrasi di atas, garis lurus diibaratkan pinggir tikar dan tumir kaki sudah berada pada posisi itu maka insyaallah shaf kita sudah lurus.

Demikianlah sedikit mengenai Shaf dalam Shalat berjama’ah. Ada baiknya kita dalam setiap beribadah, memperbanyak pengetahuan kita akan hal itu. Dan mudah-mudahan dengan demikian dapat meningkatkan kualitas ibadah kita.
Wallahu a’lam..

9 pemikiran pada ““SHAF LURUS DAN RAPAT..!!!”

  1. batanyo ciek,,
    disitu ado tulisan kesalahan faktor imam,,
    Faktor Pertama: Imam
    Dalam hadist di atas, perintah itu bukan semata-mata untuk makmum yang berdiri dalam Shaf-shaf, namun juga kepada imam. Sebagai Seorang yang memimpin jalannya shalat berjama’ah, Imam memiliki kewajiban memperhatikan keadaan makmum sebelum shalat berjama’ah dimulai. Namun saat sekarang sangat sering ditemui imam yang pada saat akan memulai shalat mengucapkan:

    سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya (433) dari shahabat Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu)

    dan terkadang ditambah dengan kata-kata “Shaf Lurus dan Rapat”, akan tetapi tidak sedikitpun Sang Imam berpaling melihat kondisi makmum apakah sudah siap, dan apakah shaf mereka sudah rapi? Menurut saya, inilah kesalahan fatal imam yang sering ditemui.

    nah,,pertanyannyo bagian ma nyo yg kesalah fatal imam??

    tarimokasih🙂

    • “Akan tetapi tidak sedikitpun Sang Imam berpaling melihat kondisi makmum apakah sudah siap, dan apakah shaf mereka sudah rapi?”

      Karena imam hanya menjalankan tugasnya memimpin shalat berjama’ah tanpa memperhatikan apakah barisan jama’ah sudah rapi (Lurus dan Rapat) atau belum, dan ia langsung saja takbiratul ihram..

    • udah jelas kan kalimatnya??? -______-

      akan tetapi tidak sedikitpun Sang Imam BERPALING melihat kondisi makmum apakah sudah siap, dan apakah shaf mereka sudah rapi? Menurut saya, inilah kesalahan fatal imam yang sering ditemui.

      • lantas, apakah imam harus mengecekin satu persatu kondisi imam dari shaf terdepan hingga shaf paling belakang?misalkan seperti masjid istiqlal yg luas seperti itu?
        maaf, kalo belajar hadits dan qur’an jangan langsung mengartikannya, belajarlah kepada orang ahli hadits dan ahli tafsir Al-Qur’an
        “Luruskan dan rapatkan” artinya tidak sama dengan dempetkan atau tempelkan bahu dan kaki kalian, tapi shaf.
        adanya sajadah di masjid, bertujuan untuk meluruskan shaf, kalo masalah rapatnya shaf,itu tergantung makmum. Sedangkan imam sudah mengingatkan dengan luruskan dan rapatkan shaf

      • Hmmm.. Menurut saya sudah jelas dari hadis sebelumnya di atas kalau rapat itu berarti tidak adanya celah antara lengan seorang makmum dengan makmum lain di sampingnya.
        أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

        “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”

        Soal mengecek keadaan makmum tentunya situasional, tapi itu perlu. Setidaknya imam memberikan cukup jeda antara Iqomat dengan shalat agar makmum dapat merapikan shafnya. Tapi pada masa dahulu memang harus di cek sat per satu shaf shalat jamaah,. Pada masa Ustman, ada petugas yang mengecek kerapian shaf jamaah sebelum beliau takbiratul ikhram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s