Sudah Sah-kah Shalat Anda (For Men)

Tulisan ini sebenarnya sudah lama menggantung di pikiran saya dan baru sekarang baru sempat untuk menumpahkannya ke dalam tulisan.

Sudah menjadi sifat laki2 terbiasa berpenampilan simpel, namun tetap terlihat modis. Salah satu jenia pakaian yang sering digunakan oleh  kaum Adam dalam situasi tidak formal adalah Baju Kaos atau T-Shirt. Memang untuk alasan simple, pakaian yg satu ini sering menjadi pilihan untuk berbagai situasi. Dari sekedar pakaian harian di rumah, hangout bareng teman-teman, untuk pergi kuliah, atau untuk pergi bekerja dan sebagainya.

Sudah menjadi ciri khasnya agar baju kaos itu agar telihat bagus adalah ukuran yg tidak terlalu longgar atau ngepas badan bagi yg punya bodi oke (^_^”). Namun di sinilah munculnya permasalahannya ketika yang menggunakan (muslim) akan melakukan ibadah Shalat.

Nah, sebelum kita lanjutkan hubungan keduanya, ada baiknya saya paparkan dulu sekaligus mengingatkan kita mengenai Syarat Sah Shalat beserta dalilnya:

1. Islam; Maka tidak sah shalat yang dilakukan oleh orang kafir, dan tidak diterima. Begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17) 2. Berakal Sehat; Maka tidaklah wajib shalat itu bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

3. Baligh; Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya dipe-rintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

4. Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar; Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6)

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)

5. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat ; Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah:

“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

6. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

7. Menutup aurat; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

8. Niat ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

9. Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

Yang menjadi fokus bahasan ini adalah pada poin 7 di atasa yakni menutup aurat. Seperti yang sudah kita ketahui dan sudah kita dipelajari semenjak duduk di bangku SD kalau yang menjadi aurat laki-laki itu adalah dari pusar dampai lutut.
Sabda Rasululah:  Apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat. (H.R.  Al Hakim).

Di sini saya sering melihat ketidaktahuan dari laki-laki muslim tetang wajibnya menutup aurat ketika shalat.
Hubungannya dengan pakaian tadi?
Begini, ketika menunggu iqamat saat shalat di mesjid, saya sering memperhatikan saudara2 yg lain sdg shalat sunnah, terlebih yang menggunakan baju kaos. Ketika berdiri memang terlihat semua aurat tertutup, namun ketika sudah ruku’ dan sujud, di sinilah aurat mereka mulai terbuka pada bagian punggung. Seperti ilustrasi berikut..

Ketika sujud, maka bagian punggung terbuka atara pinggang celana dengan kaosnya yang terbuka karena tertarik ke atas disebabkan posisi sujud. Tentunya ketika aurat sudah terbuka, shalat menjadi batal dan harus diulang kembali. Namun Banyak yang tidak sadar kalau shalatnya sudah batal dengan ketidak tahuannya (ketidakpedulian?).

Nah, saudara-saudaraku ada baiknya kita memperhatikan lagi pakaian yang akan dipakai untuk shalat. Seandainya sering menggunakan baju kaos dan ketika anda sujud dikhawatirkan aurat saudara terbuka seperti yg saya jelaskan di atas, ada baiknya untuk mengantisipasinya. Bisa dengan melapisi di luar dengan jaket atau kemeja.

Tentunya kita tidak mau shalat yg kita tunaikan menjadi sia-sia karena ketidaktahuan atau mungkin tidak sadar kalau ternyata shalat  yg dikerjakan ternyata sudah batal ketika kita sujud dengan menampakkan aurat.

Oke saudara-saudara semoga dengan sempurnanya ibadah kita, akan menambah kedekatan kita padaNya dan diterangiNya pada hari kiamat kelak.

Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan di waktu malam ke masjid-masjid bahawa mereka akan memperolehi cahaya yang sempurna besok pada hari kiamat.” (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s