Tuhan dan Perut Keroncongan.

Apakah Tuhan tidak tahu, kalau setan senantiasa menertawakan ibadah yang dilakukan oleh orang-orang yang lapar ? kata isi perut keroncongan.

***

Ketika kita melihat kelaparan banyak membunuh orang-orang secara perlahan dengan air mata yang tertahan.Tuhan seakan diam. Dia tetap menurunkan hujan air dari langit bukan hujan beras. Sedangkan tumbuhan padi di pematang bisa saja terjangkit hama, terendam banjir lalu, gagal panen dan menambah luka hati petani yang berdoa dari pagi sampai petang. Hingga harga beras yang selamat sampai di pasar menjadi mahal.

Hujan berkah dari Tuhan, dibawahnya terdapat bocah-bocah berlarian tanpa sandal, menggigil kedinginan, Perut mereka lapar. Berlarian kaki kecilnya pulang, berharap akan ada sepiring nasi yang bisa menghangatkan. Sepanjang perjalannya pulang bocah-bocah berdoa bersama makin derasnya hujan. Namun, kecewa didapat jangankan sepiring nasi, rebusan singkong gebuh yang biasa di angkat ibu dari dandang kukusan di atas perapian hanya mengukir kenangan.

Kemarin mereka makan, berarti hari ini puasa dari pagi hingga malam. Bocah itu tidak sedih ketika ibunya berkata tidak ada sama sekali uang untuk membeli makanan. Karena sepilu apapun rengekan yang disuarakan dari bumi. Tuhan tetap tidak akan menurunkan hujan beras, benar?

Mereka kembali berlarian di bawah hujan, mengangkat tangan ke langit yang muram, menjaring air berkah dari Tuhan lalu meminumnya sambil tertawa riang, bersama teman-teman sebaya, mereka main cipratan dari genangan air hujan yang sudah menetes jarang-jarang. Tawa mereka nyatanya berhasil membohongi mata kita. Ah, bocah-bocah itu baik-baik saja. Kalau mereka lapar tentu tidak akan terlihat riang.

Lalu, ketika hujan sudah benar-benar reda. Angin berbisik lebih dingin. Membawa uap air sisa hujan ke hilir. Membuat cacing di perut yang lapar melintir, menggigiti dinding-dinding usus yang dingin. Tak berteriak lapar, seharusnya wajah bocah yang pucat bisa mengusik rasa iba setiap pasang mata yang melihatnya. Para tetangga dekat rumah mereka terlalu sibuk dengan pola rutinitas kesehariannya. Hingga menggerus nurani yang harusnya di miliki oleh setiap manusia. Tapi, entah mengapa nurani itu ikut juga menguap bersama air sisa hujan ke hilir.

Terang berganti gelap, begitulah Tuhan menunjukan kuasanya. Semua orang merasa punya Tuhan, dialah kebanggaan, dialah keagungan, dialah penguasa alam, dimana ditangannya kekayaan dan jabatan tertinggi berada. Bocah itu biar perutnya lapar. Merasa di rumahnya tidak punya beras untuk makan tapi, dia masih merasa punya Tuhan di hatinya. Maka, ketika azan berkumandang, bersama bapaknya dia di gandeng berangkat ke mesjid besar, mengisi shaff ketiga barisan laki-laki. Dia memakai baju dan sarung paling layak diantara beberapa helai baju yang bertumbuk di lemarinya yang usang.

Pada umat, seorang ustad berceramah di atas mimbar mesjid besar tentang selebritis yang pantas di hujat karena melakukan zina, tentang sikap permusuhan terhadap anggota organisasi islam berbeda, tentang fatwa haram yang dibuat secara unsur duniawi. Hingga timbul pro-kontra ditengah kehidupan umat. Padahal ustad lebih dihargai di negeri ini melebihi kepala negara. Lebih di anggap manusiawi prilakunya, di sinyalir lebih takut akan dosa apabila berbuat salah. Maka, setelah ustad berceramah. Seluruh umat akan mengamini kalimatnya.

“Bapak, kenapa ustad tidak berceramah soal lapar?” celetuk sang bocah sambil memegangi perutnya yang keroncongan. Suara perut bocah itu seperti periwitan tukang parkir jalan. Beberapa pasang mata sempat menoleh kearahnya, hanya beberapa detik. Mungkin juga bunyi perut lapar terdengar menggelitik. Ada yang cekikikan, ada yang acuh diam.

Di pikir-pikir mana sempat ustad mencari solusi soal kelaparan umat. Aktifitas organisasi agamanya sendiri sudah padat. Belum lagi bila ada jadwal syuting. Hobinya membuat kliem haram yang merisaukan umat. Tak terfikirkah olehnya untuk membuat fatwa yang bisa menurunkan tingkat kematian karena lapar? “Mengharamkan makanan yang apabila saat dimakan, tetangga di kanan-kiri rumah kita ada di antaranya yang tidak makan dan lapar”.

Namun, soal lapar bukan urusan ustad. Karena ustad bukan mentri sosial, nak! Jawab bapaknya. Bocah itu mengerjapkan mata. Entah apa yang dia ketahui tentang mentri sosial. Toh, sering sekeluarganya menahan lapar tapi tidak pernah ada ajudan mentri sosial yang datang untuk menawarkan bantuan sekedar dua liter beras tanpa harus membayar dulu uang tebusan. Soalnya kadang, saat Pak RT mengumumkan ada beras raskin. Ibu tetap tidak punya uang untuk sekedar menebusnya.

“Allahu akbar…allahu akbar” komat terdengar. Seluruh jama’ah mengangkat tangan hingga sejajar telinga. Menundukan hati, meletakan segala rasa takut dan penghormatan disana. Ritual ibadah yang bisa membuat manusia dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhannya. Hening, larut mereka dengan kekhusyuan ibadah. Kecuali, bagi mereka yang perutnya lapar. Pikiran mereka mengawang-awang ke sebuah rumah makan Padang, disebrang jalan mesjid besar. Aroma harum santan yang kental memikat hidung hingga membuatnya kembang kempis. Pedas dan guring daging rendang berbumbu merah kecoklatan memohon perhatian mata nanar yang lapar. Nyanyian perut makin bersuara sumbang.

“Tuhan aku lapar” akhirnya kalimat itu keluar ditengah-tengah bacaan doa shalatnya. Kalimat paling jujur dari dalam perutnya, mengalir bersama tetesan air mata yang jatuh mengenai sajadah warna hijau toska. Entahlah, apakah Tuhan akan marah padanya. Tapi, hingga ibadah selesai. Tuhan tetap diam. Perut tetap lapar.

Memangnya siapa peduli dengan perut orang yang lapar? Perut merengek minta makan, timbul perih di lambung, itu derita yang punya perut. Jika mentri saja tidak peduli, manalah presiden peduli? lantas apa Tuhan juga peduli? Bila ustad sebagai penyiar ketuhanan tidak ingin peduli?!.

Bocah itu di gandeng bapaknya keluar mesjid dengan gotai. Mereka sempat berhenti di depan rumah makan padang. Memandangi berbagai jenis makanan dari etalase kaca. Semua makanan terlihat mengiurkan. Menelan beberapa teguk air liurnya sendiri tidak membuatnya kenyang.

“Bapak, saya lapar!” rintih bocah itu lagi, tatapannya nanar. Bapaknya diam. Perut bapaknya yang keroncongan juga mengisyaratkan derita yang sama.

“Kita kepasar” ajak bapaknya.

Mata bocah itu seketika berbinar. “membeli makanan, pak?” tanyanya.

Tidak ada jawaban. Mereka terus berjalan, Sesampainya di pasar, bapaknya berbisik pelan “tunggu disini jangan kemana-mana ya, nak!”

Di jarak satu meter dari tempatnya berdiri. Binar mata bocah itu perlahan redup. Di lihatnya dengan kesedihan, bapak sedang memanggul karung-karung berukuran sangat besar berisi terigu, gula, jagung, kentang dari sebuah truk ke penjajar dangangan di pasar. Badan bapak yang kurus terbungkuk-bungkuk. Peluhnya menetes jatuh bergantian. Bapak seorang kuli panggul di pasar. Dia tidak sendirian, dilihatnya banyak orang yang bekerja seperti bapaknya. Setelah pekerjaannya selesai mereka berbaris meminta upah. Dua lembar uang sepuluh ribu rupiah dipamerkan bapak di depan anaknya. Tidak ada lagi binar bahagia terpancar.

“Kita beli makanan, ya?” ajak bapak. Tangannya mengusap kepala bocah itu lembut. Dua bungkus nasi dibawanya pulang kerumah. Akan di makan bersama-sama dengan ibunya.

Setiap hari, hanya ada satu harapan dan doa dari diri orang-orang yang lapar perutnya. Bukan berharap besok bisa ketemu makan. Tapi, semoga bunyi perut keroncongan ini perlahan – lahan tidak membunuh nilai rasa ketuhanan dalam hatinya.

 

 Sumber Inspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s